Bushido: Buku yang Mengubah Citra Jepang di Mata Dunia


MATA INDONESIA, JAKARTA – Pernah menonton The Last Samurai? Film epik Hollywood yang menceritakan Katsumoto, seorang samurai pemberontak. Ia mendedikasikan hidupnya melawan kekuatan yang ia yakini merusak nilai-nilai tradisional Jepang, terutama Bushido.

Film The Last Samurai yang menonjolkan kode etik Bushido
Film The Last Samurai yang menonjolkan kode etik Bushido

Para samurai atau disebut Japan Warior adalah salah satu prajurit Jepang yang terkenal di era premodern. Samurai sering juga disebut sebagai Bushi atau Buke. Secara harafiah, samurai merupakan kata serapan dari bahasa Jepang kuno yakni “Samorau” atau “Saburau” yang berarti melayani. Samurai adalah pelayan bagi para majikannya.

Sejarah panjang terbentuknya samurai terkait erat dengan melemahnya pemerintahan pusat pada periode Heian (794-1192). Pada era tersebut, banyak keluarga aristokrat Jepang saat itu yang tidak mendapatkan kedudukan di pusat menyingkir ke daerah-daerah dan membentuk kelompok mandiri yang menguasai daerah tersebut.

Samurai menjadi kelas militer yang berkuasa yang menjadi peringkat sosial tertinggi pada Periode Edo (1603-1867). Dalam periode tersebut samurai bekerja kepada Daimyo, orang yang memiliki pengaruh besar di suatu wilayah.

Dalam menjalankan tugasnya, samurai memiliki kode etik yang disebut Bushido. Secara sederhana bushido berarti jalan terhormat seorang Samurai. Ada8 prinsip Bushido yaitu, kebenaran, keberanian, kebajikan, rasa hormat, ketulusan, menghormati, loyalitas, dan kontrol diri.

Bushido merupakan etika ajaran Budha Zen. Zen merupakan moral dan filosofis Samurai. Dalam bentuk yang lebih filosofis, Zen menekankan bahwa tidak ada batasan antara hidup dan mati. Tidak heran jika para samurai menjalani etika dari filosofi ini dengan menonjolkan rasa percaya diri dan memenuhi kebutuhan diri secara mandiri.

Selain mengacu pada etika Zen, Bushido juga mengamalkan etika-etika dari Confusius. Ajaran Confusius mengatur harmonisasi hubungan antara sesama manusia, hubungan manusia dengan makhluk lain yang ada di dunia dan hubungan manusia dengan alam.

Dalam menjalankan bushido seorang samurai harus total dalam pengabdiannya. Bahkan kematian yang sempurna dan mulia adalah kematian saat membela kaisar dan negara.

Dalam film The Last Samurai yang menceritakan sudut pandang Kapten Angkatan Darat AS Nathan Algren untuk membantu melawan pemberontak, tetapi malah berakhir dalam tawanan mereka. Katsumoto dan kelompok samurai pemberontaknya menjadi contoh sempurna sosok kesatria terhormat: tak kenal takut, berdedikasi, pekerja keras dan disiplin tapi juga bersikap sopan dan baik kepada tawanan mereka.

Setelah menyaksikan budi luhur para samurai, Algren jadi berpihak pada Katsumoto. Ia malah membantunya dalam menjalankan misinya yang amat penting.

Dari film blockbuster sampai drama televisi Jepang, selama bertahun-tahun samurai telah menjadi model keunggulan fisik dan kejujuran moral, yang menjunjung tinggi kehormatan dan kesetiaan di atas nyawa mereka.

Citra samurai ini, meskipun tidak akurat secara historis, begitu mengakar dalam imajinasi publik. Dan sebagian besar karena sebuah buku tipis dalam bahasa Inggris pada penghujung Abad ke-20. Penulisnya Inazo Nitobe.

Bushido: The Soul of Japan pertama kali terbit pada 1900. Buku ini hanyalah satu dari sekian banyak buku tentang bushido (‘jalan kesatria’). Buku Nitobe masih menjadi salah satu sumber paling berpengaruh bagi yang berusaha memahami sistem nilai yang masih meresap ke banyak aspek masyarakat Jepang sampai hari ini.

Kode moral

Melalui bukunya, Nitobe, seorang ahli ekonomi pertanian, pendidik, diplomat, dan penganut Kristen yang menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Liga Bangsa-Bangsa dari 1919 hingga 1929, berusaha menjelaskan ke masyarakat Barat (termasuk istrinya, Mary) nilai-nilai moral yang mendasari budaya Jepang.

Inoze Nitobe, penulis buku Bushido
Inoze Nitobe, penulis buku Bushido

Menurut Nitobe, nilai-nilai tersebut berakar dari bushido, yang ia definisikan sebagai kode prinsip moral para samurai.

Bushido, menurut Nitobe, mengharuskan samurai untuk memiliki rasa keadilan yang kuat serta keberanian untuk menegakkan keadilan itu. Ia mengajarkan kebajikan dan kesopanan, kejujuran, kehormatan, dan kesetiaan pada otoritas yang lebih tinggi. “Rasa kehormatan, menyiratkan kesadaran yang kuat akan harga diri, selalu menjadi karakter sang samurai…” tulis Nitobe.

Kenyataannya agak berbeda, dan para sejarawan menilai deskripsi Nitobe tentang samurai terlalu romantis.  ”Samurai dan daimyo (tuan feodal) tidak benar-benar menjalani kehidupan yang penuh kehormatan dan kesetiaan,” kata Sven Saaler, profesor sejarah modern Jepang di Sophia University di Tokyo.

Kalau ada kesempatan, menurut Sven Saaler juga akan membunuh tuan mereka dan mengambil posisinya.

Nitobe, yang berasal dari keluarga samurai, juga mengklaim bahwa nilai-nilai samurai dianut oleh semua orang Jepang. ”Semangat bushido meresap ke semua kelas sosial,” tulis Nitobe.

Namun berlawanan dari klaim Nitobe, pada zaman Edo (1603-1868), samurai banyak dicerca karena menyalahgunakan hak istimewa mereka. Namun, tujuan Nitobe dalam menulis buku ini bukanlah untuk menawarkan catatan sejarah yang akurat tentang samurai, melainkan menunjukkan dunia luar bahwa Jepang memiliki sistem nilai yang serupa dengan moralitas Kristen.

Dengan demikian, Nitobe terus-menerus merujuk ke filosofi dan literatur Eropa serta mempersamakan bushido dengan kode kesatria alias chivalry para kesatria Eropa.

”Chivalry adalah bunga, yang juga tumbuh secara alami di tanah Jepang seperti halnya lambang negaranya, sakura…” tulis Nitobe.

Menurut Saaler, Nitobe berusaha untuk melawan rasisme dan paranoid akan adanya ancaman dari orang kulit kuning di Eropa dan Amerika dengan membentuk citra samurai.  Hanya empat tahun sebelum bukunya diterbitkan, Jepang baru saja menang perang melawan China dari 1894 hingga 1895.

Kesuksesan militer tersebut mengejutkan kekuatan-kekuatan Barat pada masa itu. Apalagi diikuti oleh kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang tahun 1904 dan 1905.

Klaim

Buku Nitobe bertujuan untuk mengubah ketakutan bahwa Jepang suatu hari nanti akan menjadi ancaman bagi Eropa.  ”Membangun citra yang sangat positif tentang Jepang sebagai negara yang militernya kuat namun beradab dan berperilaku beradab dalam perang,” kata Saaler.

Menurut Eri Hotta, sejarawan dan penulis buku Japan 1941: Countdown to Infamy, buku tersebut juga merupakan upaya untuk menempatkan Jepang di posisi setara dengan negara-negara terkuat Barat sehingga mereka dapat mengklaim hak untuk menjadi tuan para koloni.

Pujian internasional terhadap bukunya menunjukkan bahwa Nitobe sukses dalam tujuannya mendokumentasikan nilai-nilai Jepang dan dengan demikian meningkatkan citra negara itu di mata Barat.

Terbit pada saat minat terhadap Jepang sedang tumbuh, menyusul kemenangan militer negara itu atas Cina dan Rusia, buku Nitobe membuat takjub pembaca Barat yang terkesan sekaligus terheran-heran dengan kebangkitan Jepang.

Bagi pembaca Barat, keberanian, kejujuran moral, dan nilai-nilai lain dari bushido yang dalam buku Nitobe menjadi penjelasan yang meyakinkan tentang bagaimana sebuah negara kecil, dan sampai saat itu tidak terkenal, dapat mengalahkan tetangganya yang jauh lebih besar dan tampaknya lebih kuat.

”Buku Nitobe menawarkan suatu cara untuk menjelaskan sumber kekuatan Jepang yang semakin besar,” kata Lance Gatling, penulis The Kano Chronicles, buku tentang pendiri bela diri judo, Jigoro Kano.

Daya pikat bushido sebagai kode moral bahkan menarik perhatian Presiden AS saat itu, Theodore Roosevelt, yang merupakan seorang praktisi judo.

Dalam sepucuk surat kepada diplomat dan politikus, Pangeran Kentaro Kaneko, tertanggal 13 April 1904, Roosevelt menulis: “Saya sangat terkesan dengan buku tentang Bushido. Saya belajar cukup banyak dari apa yang saya baca tentang semangat Samurai yang hebat …”

Tak Disukai Orang Jepang

Robert Baden-Powell, pendiri Pramuka, menulis bahwa salah satu tujuan dari Pramuka adalah menghidupkan kembali beberapa aturan kesatria dari zaman dahulu. Dan menurut Powell ini ada dalam nilai-nilai bushido.

Berbeda dengan larisnya buku ini di luar negeri, kritikan kepada buku Nitobe di Jepang banyak sekali. Salah satunya karena nilai-nilai dalam buku ini sudah tidak akurat. Oleg Benesch dalam bukunya Inventing the Way of the Samurai menulis soal buku ini.

Menurut Oleg, meski sukses di barat, orang Jepang tidak menyukai buku ini. Buku Nitobe membuat orang Jepang percaya bahwa mereka semua adalah pewaris nilai-nilai yang luhur untuk membenarkan yang salah. ”Zaman sudah berubah, dan itu penting untuk citra diri orang Jepang untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu,” ujar Oleh Benesch.

Malah, setelah Perang Dunia Kedua, prinsip dan nilai bushido dengan militerisme Jepang, menjadi target kebencian rakyat di Jepang.

Baru-baru ini, minat terhadap bushido kembali tumbuh. Buku Nitobe mendapat pengakuan internasional lagi pada 1980-an. Ketika dunia terkaget-kaget dengan kemajuan pesat ekonomi dan teknologi Jepang.

Lee Teng-hui, mantan Presiden Taiwan yang baru saja meninggal, mengingatkan masyarakat Jepang akan pentingnya buku itu. Dalam memoar tahun 2006 yang menjabarkan bagaimana buku itu memengaruhi kehidupan dan pemikiran Lee Teng-Hui.

Namun, terlepas dari naik-turunnya minat, Nitobe dan bukunya tidak terlalu populer di Jepang. Bahkan mereka yang tahu Nitobe lebih sering mengingatnya sebagai wajah pada uang kertas 5.000 yen dari tahun 1984 hingga 2004.

Reporter : Nabila Kuntum Khaira Umma

Baca berita Bushido: Buku yang Mengubah Citra Jepang di Mata Dunia selengkapnya di Minews ID.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *