Aneh! Selama 2 Tahun Pria Ini Ejakulasi Lewat Anusnya


Aneh! Selama 2 Tahun Pria Ini Ejakulasi Lewat Anusnya
Ilustrasi memegang penis Foto: derneuemann via pixabay

Dokter telah mendokumentasikan kejadian yang sangat aneh tapi nyata, di aman seorang pria mengalami ejakulasi lewat dubur selama dua tahun terakhir.

Cerita bermula ketika pria berusia 33 tahun mencari pertolongan medis usai mengalami nyeri luar biasa di testisnya selama 5 hari. Gejala ini adalah yang terbaru dari rangkaian gejala yang pernah dialami pria tersebut. Sebab, dalam dua tahun terakhir, ia mengeluarkan gas dalam urinnya (pneumaturia) dan mengeluarkan urin serta air mani dari rektumnya.

Secara keseluruhan, cairan, tinja, dan gas tidak keluar dari lubang semestinya. Ini terjadi jauh sebelum rasa sakit di testis pria itu muncul hingga mendorong ia pergi ke rumah sakit. Lebih lanjut, kasus yang diterbitkan di jurnal Cureus, menemukan bahwa pasien punya testis bengkak.

Sementara hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tanda-tanda infeksi salurah kemih dan pemeriksaan dubur memperlihatkan tanda-tanda adanya masalah pada dinding anus.

Aneh! Selama 2 Tahun Pria Ini Ejakulasi Lewat Anusnya (1)
Hasil pemindaian menunjukkan adanya fistula (saluran abnormal) antara uretra dan rektum. Foto: Cureus

Pemeriksaan lebih lanjut menggunakan CT Scan menunjukkan struktur berisi gas. Dan tes lebih lanjut mengkonfirmasi adanya fistula (saluran abnormal) antara uretra dan rektum, di mana berbagai cairan dan objek padat telah ada di sana.

Selain memperbaiki fistula melalui operasi, tim mencari kemungkinan penyebabnya. Setelah melakukan penyelidikan, dokter akhirnya menemukan penyebabnya, di mana pasien diketahui sempat mengalami koma selama tiga minggu pada dua tahun lalu karena keracunan kokain dan fensiklidin (PCP).

Selama dirawat di rumah sakit, si pria dipasang kateter foley. Inilah yang kemungkinan besar menyebabkan cedera fistula. Beruntung, pasien bisa diobati dan bisa kembali ke keadaan normal.

"Kasus ini tidak hanya menyoroti komplikasi langka dari penggunaan kateter tetapi juga menekankan pentingnya perhatian penyedia saat menggunakan terapi yang tampaknya tidak berbahaya seperti kateter foley,” tulis para peneliti di jurnal Cureus.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *