Viral: Penjual Papeda Gunakan Kostum Unik, Mulai Jadi Kuntilanak hingga Pocong


Viral: Penjual Papeda Gunakan Kostum Unik, Mulai Jadi Kuntilanak hingga Pocong
Lia, penjual papeda menggunakan kostum pocong saat berjualan. Foto: Dok Hi!Pontianak

Hi!Pontianak – Aksi penjual makanan unik lagi-lagi bikin heboh warganet. Kali ini datang dari seorang penjual papeda di Pekalongan Jawa Tengah, yang mengenakan kostum menyerupai sosok kuntilanak. Hal tersebut diungkap pertama kali melalui akun TikTok @khorunnisa348.

Sosok di balik tampilan menyeramkan itu bernama Lia Afidah. Kepada HiPontianak, Lia mengaku mulai menggunakan kostum unik saat berjualan sejak tahun 2018. Tak hanya berdandan mirip kuntilanak, sebelum pandemi, ia menjajakan dagangannya dengan berbagai kostum, mulai dari seragam SD, seragam SMA, hingga guru.

Viral: Penjual Papeda Gunakan Kostum Unik, Mulai Jadi Kuntilanak hingga Pocong (1)
Lia menggunakan kostum suster ngesot saat berjualan papeda. Foto: Dok Hi!Pontianak

"Dulunya enggak pakai kostum ini (kuntilanak), pake kostum biasa. Biasanya kalau jualan di SD pakai seragam SD, kadang seragam SMA, suster, guru, sampai anak kuliahan. Itu efek semenjak (pandemi) COVID pertama, masa PSBB dan COVID PPKM jualan saya sepi, makanya pingin rame, pake kostum kuntilanak," ujarnya via WhatsApp, Minggu 26 September 2021.

Saat mengenakan kostum kuntilanak, Lia menuturkan dirinya sempat ditakuti oleh pembeli. Namun, seiring berjalannya waktu, para pembeli yang mayoritas anak-anak, mulai berani mendekati, dan menyukainya. Bahkan sempat beberapa anak yang melihatnya berjualan, meminta dirinya menggunakan kostum ala anak punk.

"Pertama kali anak-anak dan orang dewasa lihat, yang pasti kaget, dan heran gitu. Saya hanya mikir, kepingin bikin heboh aja. Coba, anak-anak pada takut apa ndak (atau tidak). Awalnya mereka agak takut gitu, tapi lama-lama mulai berani, sampai minta request jadi anak punk, saya penuhi. Tapi hanya sekali, karena ndak enak dipandang," tuturnya.

Viral: Penjual Papeda Gunakan Kostum Unik, Mulai Jadi Kuntilanak hingga Pocong (2)
Tak hanya kostum bertema horor, Lia juga menggunakan kostum ala mahasiswi saat berjualan. Foto: Dok Hi!Pontianak

Herannya, kalau pakai kostum biasa, ala cewek cantik, (pembeli) ndak pada suka," tambah Lia.

Lia mengaku, aksinya itu berbuah hal positif bagi pembeli. Menurut dia, anak-anak dan orang dewasa yang sebelumnya takut dengan sosok tak kasat mata ini, menjadi tidak takut lagi, karena sudah pernah melihat dirinya berjualan menggunakan kostum kuntilanak.

"Bagiku, merubah penampilan yang seram biar orang-orang pada ndak takut dan akhirnya mereka yang awalnya takut pada suka, ndak takut lagi karena jarang-jarang ada yang jualan pake kostum horor," kata penjual papeda itu.

Viral: Penjual Papeda Gunakan Kostum Unik, Mulai Jadi Kuntilanak hingga Pocong (3)
Lia berjualan papeda dengan menggunakan kostum seragam SMA. Foto: Dok Hi!Pontianak

Meskipun aktivitas sekolah telah kembali normal, dirinya tetap menggunakan kostum horor saat berjualan. Namun ia tidak menjajakannya di siang hari, melainkan pada malam hari. Alasannya karena agar lebih terlihat menyeramkan.

"Ini kan sekolah sudah pada berangkat, jadi kalo kostum horor digunakan saat malam. Kadang (kostum) pocong, suster ngesot, nenek sihir. Soalnya, setan dapatnya malam hari lebih oke. Kalo siang ndak pas aja. Orang-orang sukanya kostum kuntilanak karena ada ciri khasnya, ketawa kunti. Kalo siang pakaian kayak biasa, anak sekolah, guru, kadang-kadang jadi anak kuliah" ungkap Lia.

Berkat penampilannya yang mirip kuntilanak ketika berjualan, pendapatannya pun meningkat. Perempuan yang akrab disapa Liyak Keling itu mengaku, pendapatannya hanya sekitar Rp 100 ribu per hari ketika tidak menggunakan kostum kuntilanak.

Viral: Penjual Papeda Gunakan Kostum Unik, Mulai Jadi Kuntilanak hingga Pocong (4)
Penjual papeda yang berkostum kuntilanak berfoto bersama pembelinya. Foto: Dok Hi!Pontianak

"Alhamdulillah jualan tambah ramai, karena dikenal banyak orang. Apalagi anak-anak menyukai dan merasa terhibur. Saya pun pribadi dulunya penakut semenjak jadi kunti rasa takutnya sudah hilang," ujarnya.

Perempuan asal desa Kranji, Kedungwuni, Pekalongan, itu biasanya berjualan di sekitar Jrebengkembang, Pasar Tiban, Pakisputih, Desa Proto, Kedungwuni, Salakbrojo, Pajomblangan, hingga Kranji. "Itu keliling juga, ndak tentu. Pilih yang ndak jauh banget, karena khawatir sama anak yang ada di rumah," pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *