Mengidap HIV, Bocah Asal Blora Ini Harus Berjuang Melawan Penyakit Paru-paru


Mengidap HIV, Bocah Asal Blora Ini Harus Berjuang Melawan Penyakit Paru-paru
Ruro (nama samaran, bocah berusia 8 tahun yang berjuang melawan HIV dan penyakit paru-paru.

BLORA-Di usianya yang baru 8 tahun, Ruro (nama samaran) harus menghadapi ujian yang cukup berat. Dia merupakan pengidap HIV sejak masih bayi. Kini, dia juga harus berjuang melawan penyakit paru-paru.

Tubuh anak itu terlihat sangat kurus, dengan perut sedikit buncit. Postur tubuhnya lebih kecil dibanding anak sebayanya. Di usia 8 tahun itu, berat tubuhnya masih belasan kilogram saja.

Dia tinggal bersama keluarganya di kawasan Japah, Blora. Ibundanya, Rahma (nama samaran), juga mengidap HIV. Janda itu kini harus berjuang merawat anaknya itu.

Menurut Rahma, mereka sekeluarga memang mengidap penyakit HIV itu. Suaminya meninggal beberapa tahun lalu akibat penyakit yang belum ditemukan obatnya tersebut. Demikian pula mertuanya, meninggal karena penyakit yang sama.

Awalnya, mereka mengetahui memiliki penyakit itu saat Ruro berusia 3 tahun. "Saat itu Ruro pertumbuhannya melambat," kata Rahma, Senin (27/09/2021). Dia pun memeriksakan anaknya itu ke dokter.

Di rumah sakit Ruro menjalani serangkaian pemeriksaan. Pada akhirnya, dokter menemukan bahwa anak itu mengidap HIV. Rahma dan suaminya juga akhirnya menjalani pemeriksaan yang sama dan hasilnya positif HIV.

Penyakit yang diidapnya membuat Ruro menjadi mudah sakit. Belakangan, dia juga diketahui mengidap penyakit paru-paru. Penyakit itu membuat tubuhnya sering menggigil namun selalu berkeringat.

Penyakit paru-paru itu diketahui saat keluarganya menyalakan api unggun. "Di desa kami biasa menyalakan api untuk mengusir nyamuk," katanya. Saat itu Ruro menjadi sesak napas dan batuk-batuk hingga mengeluarkan darah.

Saat diperiksakan, ternyata Ruro menderita penyakit paru-paru yang sudah cukup parah.

Kini, Rahma yang bekerja sebagai buruh tani itu harus berjuang keras agar bisa memenuhi kebutuhan untuk pengobatan anaknya. Setiap bulan dia harus membawa anaknya ke rumah sakit untuk kontrol.

"Penghasilan saya kadang sebulan hanya dapat Rp 500 ribu. Tapi itu sudah saya syukuri," kata Rahma.

(Fernando Fitusia)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *