Kiprah Lipstik, Sempat Dikutuk dan Kini Kembali Bangkit


MATA INDONESIA, JAKARTA – Jika kita melihat make up modern ini, menarik untuk diketahui bahwa meskipun produk dan teknik telah melalui tahap kemajuan yang sangat besar, dasar-dasar make up masih tetap sama.

Umat manusia telah menggunakan riasan untuk menonjolkan fitur mereka dengan berbagai tujuan, terutama dalam kasus lipstik. Metamorfosis lipstik dari waktu ke waktu adalah kisah menarik yang perlu diceritakan.

Sejarah dan Fakta Lipstik

Sejak awal zaman prasejarah, manusia selalu memiliki kebutuhan untuk membedakan diri di antara yang lain. Pakaian, sepatu, peralatan, perhiasan, dan kosmetik adalah cara pertama yang berhasil dilakukan, tetapi lipstik di wajah adalah salah satu cara paling mencolok untuk mengubah penampilan.

Pemburu mengecat kulit mereka agar lebih menyatu dengan lingkungan, pendeta dan pembantunya mendekorasi diri untuk menghormati dewa dan kepercayaan mereka, dan orang-orang muda menggunakan segala cara untuk terlihat lebih cantik dan rapi di hadapan lawan jenis.

Namun, pada periode prasejarah yang panjang, lipstik hanya dibuat dari sumber alami yang tersedia seperti buah dan tumbuhan. Ketika peradaban awal mulai muncul di Timur Tengah, Afrika Utara, dan India, proses manufaktur yang maju memungkinkan umat manusia akhirnya mulai memproduksi jenis lipstik baru.

Yang pertama melakukannya adalah wanita Mesopotamia, yang menggiling permata berharga dan menggunakan serpihan debunya untuk menghiasi bibir mereka dengan kilau dan kekayaan. Wanita dari Peradaban Lembah Indus menggunakan lipstik secara teratur, tetapi di Mesir-lah pembuatan lipstik mengalami banyak kemajuan.

Di Mesir kuno, anggota kerajaan, pendeta, dan kelas atas menggunakan beberapa jenis lipstik, beberapa di antaranya dengan resep yang mengandung bahan beracun yang dapat menyebabkan penyakit serius. Di sanalah warna merah tua menjadi populer, diekstraksi dari tubuh serangga cochineal, teknik yang digunakan secara luas bahkan hingga hari ini.

Setelah Mesir berhasil menyebarkan penemuan dan kemajuan mereka di seluruh Eropa, lipstik berhasil menemukan rumahnya terutama dengan kerajaan Yunani dan Romawi.

Ketika Kekristenan menguasai Eropa, lipstik menjadi sesuatu dari masa lalu dan hampir sepenuhnya dilupakan (Gereja Katolik mengutuk penggunaan kosmetik, sering menghubungkan penggunaan lipstik merah dengan pemujaan setan).

Lipstik kembali bangkit pada abad ke-16, selama perubahan mode dramatis yang diterapkan oleh Ratu Inggris Elizabeth I. Gaya busananya dengan wajah putih pucat dan bibir yang dicat cerah populer untuk beberapa waktu, tetapi setelah itu dengan cepat lipstik kembali jatuh.

Lipstik sempat hanya digunakan oleh perempuan kelas bawah dan pelacur. Tren ini tidak berubah selama beberapa abad, sampai revolusi industri akhir abad ke-19 berhasil membawa kembali lipstik komersial menjadi mode populer.

Dengan kemudahan pembuatan, harga murah, maraknya fotografi, dan dipopulerkan oleh banyak aktris film terkenal, lipstik akhirnya menjadi umum digunakan pada dekade kedua abad ke-20. Pada saat itu, para inovator berhasil membuat tabung putar modernnya, ahli kimia menciptakan resep yang mengkilap, dan mode mulai mendikte tren dan warna lipstik populer.

Dalam masyarakat modern saat ini, lipstik dipandang sebagai salah satu item fashion yang paling penting. Mereka murah, mudah digunakan, dan dapat membuat perubahan dramatis dalam tampilan dan kehidupan individu yang memakainya. Merek lipstik yang tak terhitung jumlahnya berjuang untuk supremasi di seluruh dunia.

Penemuan resep serta gaya baru telah membawa ke titik di mana lebih dari 80% wanita di Amerika Utara menggunakan lipstik secara teratur dan lebih dari 30% dari mereka memiliki 20 lipstik setiap saat mereka dewasa.

Lipstik berhasil tidak hanya mengubah cara kita melihat mode, tetapi juga memengaruhi banyak budaya selama berabad-abad dan ribuan tahun terakhir. Banyak peradaban menerapkan ritual dan tradisi kompleks seputar lipstik. Di beberapa daerah, lipstik sebagai kebutuhan karena tujuan pengobatan mereka (perlindungan bibir dalam kondisi kering dan berangin, perlindungan matahari, dll), dan di suatu tempat lain, itu hanya menjadi bagian dari kehidupan (istri tradisional Jepang kelas atas dilarang berjalan di depan umum tanpa riasan wajah penuh).

Lipstik telah ada selama ribuan tahun, dan akan tetap ada selama mode ada.

Warna Lipstik yang Cocok untuk Kulit

Perempuan harus memilih lipstik sesuai dengan warna kulitnya, bentuk bibir, dan mulutnya. Untuk warna kulit dan bentuk bibir yang berbeda, ada berbagai warna lipstik yang cocok. Berikut adalah beberapa saran yang dapat membantu untuk menemukan warna lipstik yang cocok untuk Anda.

Wanita yang memiliki kulit lebih gelap dapat menggunakan hampir semua corak dan warna lipstik. Pilihan terbaik diantaranya: merah, merah tua, coklat, coklat, plum, oranye dan pastel. Salah satu aturannya adalah semakin dalam warna kulit Anda, semakin dalam warna lipstik yang bisa digunakan.

Wanita dengan kulit putih dapat menggunakan lipstik dengan warna medium. Lipstik gloss sering direkomendasikan. Kulit putih bisa terlihat pucat jika dipadukan dengan lipstik bernuansa cerah. Nuansa gelap bukanlah pilihan terbaik untuk kulit putih. Wanita dengan warna kulit ini terlihat paling baik dalam nuansa biru keren.

Wanita dengan warna kulit sedang dapat menggunakan semua warna merah, sherry berry, coklat koral, dan ungu muda berbasis coklat.

Untuk wanita dengan kulit pucat sangat cocok menggunakan warna nude dan beige. Juga direkomendasikan warna terang seperti pink muda dan warna peach.

Wanita dengan warna kulit zaitun terlihat cantik dengan warna-warna hangat yang berbasis kuning seperti coklat dan peach.

Reporter: Sheila Permatasari

Baca berita Kiprah Lipstik, Sempat Dikutuk dan Kini Kembali Bangkit selengkapnya di Minews ID.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *